Ekosistem Aquaponik: Mengolah sampah makanan kantin UI untuk circular economy

Figure 1. Sisa makanan di kantin FISIP UI, Depok, Senin (23/12/19)

Senin siang, 23 November lalu, Meja makan kantin FISIP UI penuh dengan mahasiswa yang sedang makan siang. Tepat disamping meja makan saya, ada lima mahasiswa yang sedang makan, dua dari mereka terlihat tidak selera makan sehingga paket nasi ayam bakar itu tersisa. Bahkan satu mahasiswa mengutarakan alasan kenapa dia tidak menghabiskan makanannya karena ayam bakarnya terlalu manis.

Setelah selesai makan, mereka menaruh piring kotor ke tempat seperti lemari coklat tanpa pintu dengan empat tingkat. Di tempat itu piring sisa makanan ditumpuk ke atas. Kalau sudah banyak, petugas akan mengambil lalu membuang sisa makanan ke ember dan piring dicuci dengan air hangat.

Agung Triyono, seorang petugas cuci piring Kantin FISIP mengatakan setiap hari sisa makanan yang terkumpul setara dua ember sejak kantin buka pukul 8 pagi.

“ Dihasilinya dua ember yang berukuran 5 liter dan biasanya saya buang siang jam 12  sama sore” Kata Agung.

Agung menambahkan sampah sisa makanan ini sebagian kecil tidak dibuang semua, tetapi kalau ada satpam yang meminta sisihkan makanan untuk ayam atau bebek peliharaanya.

Setelah dikumpulkan sampah sisa makanan, kemudian dibuang ditempat sementara, tepat di belakang toilet kantin yang sudah tidak digunakan.

Arsal, petugas sampah FISIP mengatakan sampah sisa makanan diangkut petugas setiap dua hari sekali sebelum dimasukan ke tempat pembuangan pusat.

“kalau diangkut dua hari sekali nanti ada petugas khusus buat angkut sampah makanan”.

Menyisakan sampah makanan adalah ironi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren presentase komposisi sampah 2018 paling besar berasal dari sisa makanan sebanyak 57 persen, kemudian 15 persen dari plastik, 10 persen kertas, dan terendah logam, kaca, karet dan lainnya.

Sementara Friends of Earth (FOE) pada januari 2016 mencatat dalam satu tahun produksi sampah makanan di dunia mencapai 1,3 miliar ton. Sampah sisa makanan berdampak pada kerusakan lingkungan, meningkatnya gas metanan dan pemberosan hingga ancaman krisis pangan.

Demi meminimalisir pengurangan sampah sisa makanan, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan target program mengurangi sampah 30 persen pada 2025

Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah, diwujudkan dengan pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang dan pemanfaatan kembali sampah.

Pemerintah  mendorong sampah menjadi circular economy untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan. Aksi penerapan diperlukan kerjasama dari masyarakat, perusahaan maupun instansi pendidikan untuk mengubah perilaku dalam pengolahan sampah.

Pada instansi pendidikan seperti Universitas Indonesia, Depok telah dilakukan upaya pengurangan sampah sisa makanan melalui rumah kompos untuk dilakukan daur ulang dengan dengan proses pengomposan. Menurut Gandjar Kiswanto, Ketua Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Fasilitas (DPPF) kompos yang dihasilkan juga disebar ke lua wilayah Universitas.

“Kompos juga sudah disebar ke penjuru depok. Jadi dipakai UI, fakultas dan dari luar”.

Gandjar menambahkan tenaga kerja untuk pengolahan pengomposan juga bekerjasam dengan pemerintah Depok.

Pengolahan sampah sisa makanan terbaru

Selain Kompos, dalam rangka menerapkan konsep circular economy UI juga telah mengembangkan sistem baru yakni, ekosistem aquaponik, dengan mengintregasikan peternakan ikan dengan pakan larva (maggot/lalat) Black Soldier Fly (BSF) kemudian kotoran ikan dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

Ekosistem yang dikembangkan oleh staf pengajar, Mufti Pelata Patria berserta dua anggota tim pengabdian masyarakat berawal dari permasalahan sampah sisa makanan kantin Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

“ iya sampah makanan kantin FMIPA setiap hari menghasilkan 4 ember cat ukuran lima liter, dari situ saya ngobrol dengan salah satu dosen tentang sampah itu. Terus saya coba bikin experiment dengan maggot BSF itu, dan sejauh ini berhasil”.

Ekosistem aquoponik yang dimulai pada bulan Juli 2019 melalui proses pengolahan yang sederhana dimulai dari proses Biokonversi dimana maggot dimasukan ke dalam ember yang berisi sampah makanan hingga menghasilkan pakan ikan dan unggas serta kompos kotoran ikan untuk tanaman kangkung dan selada air. Sekali proses dapat memakan waktu seminggu.

Mufti menambahkan, meskipun sudah berhasil di FMIPA tetap perlu proses pemberdayaan lanjutan agar dapat mengurangi sampah makanan dengan skala besar

“ sekarang saya masih melakukan uji coba lanjutan, terus rencana akan disosialisasikan ke daerah pemukiman seperti Komplek perumahan dan Yayasan di Depoks serta Madrasah di Bogor,” Kata Mufti.

Bagi Mufti jika pengolahan sistem aquaponik sudah disosialisasikan ke masyarakat luas. Masyarakat secara mandiri dapat menambah pendapatan melalui bahan gratis (sampah sisa makanan). Sehingga masyarakat dapat berkontribusi untuk harapan pemerintah tentang pengolahan sampah di 2025.

Penulis: Susi Nurdinaningsih

Infografik: Susi Nurdinaningsih

Tingkat Konsumtif Anak Muda Akibat Terjebak Tren Makanan Kekinian

Pembeli mengantri untuk membeli Xi Fu Tang, (minuman boba) di Mall Puri Indah, Jakarta Barat

Pola mengikuti tren dengan terus mencoba makanan kekinian kerap dilakukan mayoritas anak muda. Tren ini tidak hanya menimbulkan kebiasaan baru, namun menjebak anak muda dalam perilaku konsumtif.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda pola konsumsi masyarakat sekarang cenderung mencari kesenangan. “sekarang pola konsumsi makanan telah bergeser dari non-leiser menjadi kategori leiser, yaitu karena kesenangan. Kata Nailul, Jumat (13/12/2019).

Nailul juga menambahkan pola konsumsi anak muda, sebenarnya akan mengikuti pola konsumsi sesuai tingkat regional atau wilayah tempat tinggal.

Dilansir dari Katadata.id, menurut Kementerian Perencanaan Peembangunan Nasional (Bappenas) 2018 dalam survei pergeseran belanja masyarakat ditemukan data bahwa konsumsi makanan dan minuman tetap tinggi (36,7%) dibandingkan komponen lain, meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008 (39,2 %).

Survei Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2018 tentang
pergeseran belanja masyarakat

Peralihan konsumsi dari bahan makanan (non-leiser) ke konsumsi makanan jadi (leiser) pertumbuhannya juga dipengaruhi kemudahan penawaran makanan lewat berbagai layanan online. Akibatnya komponen konsumsi transportasi dan komunikasi juga meningkat dibandingkan komponen lain, tercatat tahun 2018 (24,7%) lebih meningkat dibandingkan tahun 2008 (23,4 %). Anda dapat mengunjungi artikel asli disini.

Nailul juga mengatakan menghindari kerugian konsumtif  tren makanan kekinian, anak muda dapat menyeimbangkan dengan investasi.” Individu harus menyeimbangkan dengan investasi. Dengan adanya pola konsumsi yang cepat itu dari non-leIser ke leIser, masyarakat dihadapkan dengan investasi yang semakin ditinggalkan. Investasi seperti menabung, tidak menjadi suatu pilihan.

Menurut Psikolog Anak, Sahnaz Safitri anak muda yang terjebak pola hidup mengikuti tren makanan kekinian karena butuh pengakuan orang lain terhadap dirinya. “ mengikuti tren karena mereka mencari reward atau pengakuan sosial dari orang lain. Anak muda ini cenderung merasa dirinya tidak berharga kalau belum mendapat pengakuan dari lingkunganya. Makanya mereka terus mencari penghargaan dengan berabagai cara misalnya, ketika gue udah pernah nyoba makanan ini, teman lain yang belum pernah nyoba pasti bakal nanya ke dia yang sudah pernah atau udah ada pengalamannya”.

Sahnaz menambahkan mendapat pengakuan atau tidak itu dikontrol orang lain.  Hal itu perlahan akan berdampak kejenuhan dan keluar dari pola mengikuti tren ataupun mencari penghargaan dengan cara lain.

Penulis: Susi Nurdinaningsih

Infografik: Susi Nurdinaningsih

Ajakan Media Preneur, Minimalisir Stigma Buruh Tulis

Reyhan Putra (21) terpangil mengajak mahasiswa jurnalisme mengubah pola pikir media preneur melalui perlombaan. Dengan itu, asumsi jurnalis bekerja hanya bisa menghasilkan produk jurnalistik atau buruh tulis dapat diminalisir.

Kaget, kehilangan arah, berfikir ulang. Tiga kata itu yang terbenak pertama ketika memasuki tahun ketiga perkuliahan. Reyhan Putra mulai menyadari pilihan dirinya kali ini tidak tepat. Ia tidak melihat peluang kerja yang menjanjikan sebagai jurnalis. Reyhan, panggilan akrabnya, adalah mahasiswa jurnalisme 2016 semester akhir Universitas Indonesia.

Menurun jumlah mahasiswa jurnalisme angkatan dibawahnya. Reyhan semakin menyadari bahwa peminatan jurnalisme kurang diminati karena ada masalah. Ia mulai mencari tahu sebanyak mungkin informasi. Hingga akhirnya menemukan satu alasan bahwa masih banyak media Indonesia memiliki model bisnis yang masih melakukan adaptasi dengan model digital. Semua mahasiswa tidak ingin bekerja di suatu tempat kerja yang tidak potensial.

Media Preneur

Reyhan sering mengikuti beberapa perlombaan jurnalistik di berbagai universitas. Melihat jenis lomba hanya membuat suatu produk jurnalistik untuk suatu media Dari situ tergerak untuk mengajak mahasiswa lain mengubah sudut pandang mereka tentang peluang profesi jurnalis di dunia digital dengan membuat suatu media. Melalui perlombaan komunikasi terbesar Universitas Indonesia, Pekan Komunikasi 2019 sebagai ketua dari peminatan jurnalisme Reyhan terapkan jenis perlombaan baru, media preneur.

Tidak disangka respon para peserta lomba sangat antusias. Reyhan menyatakan “mereka tertarik karena mereka dapat lebih bebas mengeksplorasi kebutuhan media yang mereka buat dengan berbagai multimedia” Ujar Reyhan. “Pembangunan pola pikir media preneur diharapkan mahasiswa atau calon jurnalis dapat mengisi ekosistem industri media yang kurang stabil dengan inovasi modern”. Tambah Reyhan.

Dengan itu, Reyhan berharap stigma hanya buruh tulis saja, perlahan dapat digantikan dengan sudut pandang media preneur. Selain itu, potensi jumlah mahasiswa memilih peminatan jurnalisme meningkat.

Penulis: Susi Nurdinaningsih

55 Tahun Fakultas Teknik UI, Gelar Pameran Karya Unggulan untuk Indonesia

Expo 55th Fakultas Teknik UI, Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Sabtu (09/11/19)

Sejumlah karya terpajang di atas meja yang tersusun rapi sepanjang pelataran pusat perbelanjaan. Bentuk karyanya beragam seperti tabung, kotak, setengah lingkaran dan bentuk lainnya. Karya paling banyak berbahan dasar alumunium. Ada pula karya yang tidak wujud fisik, namun hanya berupa susunan algoritma pada sebuah aplikasi.

Karya-karya itu sengaja dipamerkan untuk merayakan berbagai pencapaian membanggakan selama perjalanan 55 tahun Fakultas Teknik berkontribusi pada negeri. Pameran inovasi dan penelitian baru ini digelar di Pondok Indah Mall 2, Jakarta Selatan, pada tanggal 7-10 November 2019.

Tahun ini, Mahasiswa serta dosen peneliti Fakultas tertua Universitas Indonesia ini memperkenalkan karya unggulan antara lain: TaLis500 (Tabung Listrik) portabel sebagai solusi bagi permasalahan kebutuhan lstrik di daerah tertinggal, Inkubator bayi hemat energi untuk bayi prematur sebagai solusi bagi masyarakat menengah ke bawah,  Cleft Sintesa simulator anatomis untuk penanganan bibir sumbing di Indonesia.

Selain itu, hasil inovasi lainnya adalah aplikasi FT UI Mobil Game. Game ini dibuat untuk memperkenalkan Departemen Fakultas Teknik serta dasar-dasar ilmu teknik yang dipelajari. Alur permainan ini hanya meminta pemain untuk menyelesaikan masalah dengan ilmu teknik pada setiap levelnya.

Pameran yang disusun bersama ILUNI FT UI ini sengaja dilakukan di pusat perbelanjaan atau mall. Menurut Kiki Nirmala, Panitia ILUNI untuk memperlihatkan kepada masyarakat terutama generasi muda tentang perkembangan teknologi dan profesi perekayasa (engginer).

“ ya sebenarnya kami bermaksud biar banyak orang yang melihat, terutama anak-anak muda yang penasaran dengan perkembangan industri teknik, kan kalau weekend banyak orang yang datang ke mall”, Kata Kiki Nirmala.

Lanjut Kiki, tidak hanya pameran karya saja, rangkaian acara ini ada seminar serta sosialiasi bidang ilmu di Fakultas Teknik bagi anak muda yang ingin kuliah ilmu teknik.

Pameran ini tidak hanya diramaikan dengan generasi muda, namun banyak orang tua yang mengunjungi pameran serta mengikuti seminar, salah satunya Fajri Mauza, peserta pada tema seminar “Masa Depan Industri 4.0”. Fajri sebagai pekerja salah satu perusahaan industri Jakarta mengatakan acara ini sangat membantu untuk lebih dapat gambaran pekerjaan industri teknik mendatang yang tepat untuk anaknya.

“ acara ini informatif banget, saya kan pekerja industri juga. Kalau anak saya suka IT. Jadi pas tadi saya nanya ke salah satu narasumber, dia kasih saran dan penjelasan gambaran bidang pekerjaan yang sedang dibutuhkan di industri sekarang dan nanti pas teknologi 4.0”. Kata Fajri Mauza, Pengunjung.

Hasil lain yang telah dicapai FT UI pada usia 55 tahun lainnya adalah mendirikan sekolah Indonesia Cepat Tanggap di beberapa daerah yang terkena bencana seperti Lombok dan Palu. Sekolah-sekolah itu dibangun agar anak-anak daerah bencana dapat segera bersekolah kembali.

Penulis: Susi Nurdinaningsih

Foto dan Video: Susi Nurdinaningsih

Protes Krisis Iklim, Greenpeace Indonesia Gelar Pawai

Greenpeace Indonesia dan Komunitas Peduli Lingkungan melakukan Pawai dari MRT Dukuh Atas sampai Taman Aspirasi, Jakarta Pusat untuk menyeuarkan protes krisis iklim kepada pemerintah baru, Sabtu, (26/10/2019).

Greenpeace Indonesia bersama Komunitas Peduli Lingkungan menggelar pawai protes krisis iklim dan lingkungan kembali, Sabtu (26/10/2019). Pawai ini  juga menyuarakan aspirasi suhu panas yang melanda sebagian wilayah Indonesia.

Sebelumnya protes krisis iklim dilakukan dengan bentang spanduk di beberapa patung Ibu Kota. Menurut Koordinator Lapangan Pawai, Greenpeace Indonesia, Nurika, mengatakan tujuan dari pawai protes krisis iklim meminta pemerintah baru untuk lebih peduli iklim dan kebakaran hutan.

Nurika- Koordinator Lapangan Pawai

Peserta aksi melakukan pawai dari titik temu MRT Dukuh Atas menuju Taman Aspirasi, Jakarta Pusat. Peserta aksi berjumlah sekitar lebih dari 100 orang. Kemudian, selama perjalanan pawai, masa aksi terus bertambah. Peserta pawai terdiri dari berbagai kalangan usia dan aliansi mulai dari anak-anak, mahasiswa hingga orang tua.

Menurut Al-Iqbal, Peserta pawai dari Front Mahasiswa Nasional, mengatakan tidak hanya krisis iklim, peserta pawai juga menyuarakan krisis demokrasi politik terhadap masifnya koruptor atas eksploitasi sumber daya alam.

Al-Iqbal- Peserta Pawai

Peserta pawai ini juga membawa perangkat spanduk dengan berbagai tulisan bertema lingkungan seperti; Bumi ini butuh kesadaran. Kemudian beberapa peserta aksi juga menggunakan kostum yang berkaitan dengan pesan yang disuarakan.

Setelah pawai, aksi ini ditutup dengan orasi yang disampaikan dari beberapa aliansi yang tergabung dalam pawai. Nurika menambahkan, Greenpeace dengan komunitas peduli lingkungan lainnya akan terus mengadakan aksi lanjutan, apabila pemerintah tidak mendengarkan dan menyelesaikan krisis iklim.

Penulis: Susi Nurdinaningsih

Foto dan Video: Susi Nurdinaningsih

PKN 2019: Ajak Pelestarian Cagar Budaya melalui Wayang Daun

lukisan wayang daun yang berisikan delapan presiden Indonesia dalam pameran Pekan Kebudayaan Nasional 2019, Rabu (9/10/2019)

Pekan Kebudayaan Nasional 2019 menyuguhkan pameran menjaga pelestarian cagar budaya, salah satunya melalui medium wayang daun.

Acara yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah upaya memfasilitasi ruang ekspresi keragaman budaya untuk masyarakat.

Wayang daun merupakan seni lukis dari bahan dasar daun kering kemudian diwarnai dengan cat akrilik. Daun kering yang digunakan seperti daun talas, pelepah daun palem dan daun jati Sebelum dilukis, daun kering di rendam atau direbus dengan air, ditiriskan lalu diinjak hingga daun rata.

Wayang daun yang dipamerkan juga berisikan lukisan para tokoh hingga karya kontemporer. Endah Marjoen, Ketua Komunitas luar kotak berharap kontribusi wayang daun dalam pameran dapat mengajak pengunjung peduli terhadap pelestarian lingkungan dan cagar budaya

“kita mengajukan wayang daun sebagai medium pelestarian cagar budaya, sehingga terjadilah pameran ini. Supaya anak-anak mengenali lingkungan dan cagar budaya”, Kata Endah Marjoen.

Pengunjung juga diajak terlibat dalam pembuatan wayang daun melalui workshop wayang daun. Worksop ini digelar agar pengunjung dapat belajar cara memanfaatkan sampah daun.  

“ ternyata daun itu bisa dimanfaatkan untuk sebuah karya, ternyata dari sekedar sampah daun yang udah kering bisa menghasilkan karya yang luar biasa, jadi unik”, Shifa Fauziah, Peserta workshop.

Pameran wayang daun dibuka selama acara Pekan Budaya Nasional 2019 berlangsung. Pengunjung dapat menghadiri acara ini sampai tanggal 13 Oktober 2019.

Pameran I3E 2019, Promosikan Startup Teknologi dan Inovasi Industri Lokal Anak Negeri

Pameran I3E Teknologi dan Inovasi Industri Lokal Anak Negeri, Jakarta Convention Center (05/10/19)
Hasil karya mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Simulator Boeing 737 pada pameran I3E 2019 (05/10/19)

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan (Kemenristekdikti) kembali menggelar pameran Inovasi Inovator Expo (I3E) untuk mempromosikan produk inovasi teknologi hasil karya anak bangsa.

Ajang pameran I3E tahun ini merupakan tahun ke-5 sejak tahun 2015. Promosi melalui ajang pameran ini dapat menjadi daya tarik kepada calon konsumen maupun investor.

Sebanyak 396 startup memamerkan hasil karya-karya inovasinya kepada pengunjung. Untuk memudahkan presentasi hasil karya dikelompokkan menjadi 8 kategori salah satunya kategori transportasi.

Salah satu karya inovasi dari kategori ini adalah Boeing 737 Simulator karya mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Berbeda dengan simulasi pesawat pada game, melalui simulator ini pengguna dapat merasakan simulasi langsung secara lebih detail. Mukhlis Fajar, Tim Inovator juga mengatakan pameran ini sangat menguntungkan untuk memperkenalkan karya simulator pertamanya.

“ Ajang pameran ini membantu banget, ini juga kan baru pertama dikeluarin”. Kata Mukhlis.

Pameran ini juga disambut antusias oleh pengunjung karena pameran ini memperkenalkan hasil karya anak negeri yang inovatif dan kreatif. 

“ Acara ini sangat penting, pameran ini sebagai bukti nyata bahwa anak-anak negeri kita begitu inovatif dan mampu bersaing di kancah internasional”.

Penulis: Susi Nurdinaningsih

Foto dan Video: Susi Nurdinaningsih

Bubarkan Massa Mahasiswa, Polisi Terus Tembaki Gas Air Mata ke Arah Stasiun Palmerah

Jalan dekat Stasiun Palmerah dipadati Massa Mahasiswa yang menghindar dari tembakan gas air mata (24/9/12)
Massa mahasiswa memadati lalu lintas sekitar Stasiun Palmerah (24/9/19)

Polisi masih terus menembakkan gas air mata kepada massa mahasiswa yang berada di belakang Gedung DPR RI, Selasa Malam (24/9/2019).

Lebih dari 10 kali gas air mata diletuskan untuk membubarkan massa mahasiswa.

“ Iya, ditembakin gas air mata terus, makanya pada lari-larian ke Stasiun Palmerah”, Kata Itah, mahasiswa unjuk rasa

Sebelum ditembaki gas air mata, sejumlah peserta unjuk rasa dalam aksi pembatalan pengesahan UU KPK dan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) sempat melakukan pembakaran ban dan kayu di lampu merah dekat akses rel kereta menuju arah pasar palmerah.

Padatnya massa di jalanan, menyebabkan beberapa ruas jalan sekitar Stasiun Palmerah mengalami kemacetan.  Pengemudi kendaraan yang melintas  juga berbalik arah menuju jalan alternatif kompleks Grup Kompas Gramedia.

Sebagian warga sekitar yang berada dekat stasiun palmerah mengamankan diri ke warung sekitar, untuk menghindari letusan dan efek pedih dari gas air mata.

Penulis: Susi Nurdinaningsih

Foto dan Video: Susi Nurdinaningsih

TMII Tawarkan Wisata Serasa Pulang Kampung di Pekan Lebaran Idul Fitri

Suasana Tempat Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Saat Libur Idul Fitri 1440 H, Sabtu (8/6/2019)

Hal itu disampaikan Manager Marketing sekaligus Ketua Pekan Lebaran TMII, Dwi Atmodjo. Ia juga mengatakan kegiatan yang diselenggarakan selama pekan lebaran untuk menghibur masyarakat dan mengobati rasa rindu terhadap kampung halaman

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) gelar kegiatan pekan lebaran dengan tema “Lebaran di TMII serasa pulang kampoeng” untuk menyambut libur hari raya Idul Fitri 1440 H. Pekan lebaran ini dipadati oleh pengunjung yang tidak mudik ke kampung halaman.

Sebagian pengunjung juga datang bersama keluarga kemudian menikmati waktu bersantai dibawah pohon rindang beralaskan tikar dan bekal makanan dari rumah.

Hiburan Kesenian Kuda Lumping Oleh Keluarga Besar Among Rogo di depan Area Tugu Api Pancasila TMII

Pekan lebaran yang diselenggarakan dalam kurun waktu 5-23 Juni 2019, memiliki sejumlah hiburan untuk menemani pengunjung. Setiap hari bentuk hiburan yang ditampilkan berbeda dengan hari berikutnya. Salah satunya kesenian kuda lumping yang ditampilkan oleh keluarga besar Among Rogo.

Kesenian Among Rogo juga menampilkan debus untuk menghibur para pengunjung. Semua hiburan kesenian dimulai pukul pukul 13.00-16.00 WIB.

Para pengunjung sedang berjoget dan menikmati lagu dari grup musik Tarling Cirebon”Aura Nada” di Panggung Putro Pendowo

Selama pekan lebaran TMII menyelenggarakan tiga hiburan per-hari. Selain kesenian budaya, para pengunjung juga dapat menikmati musik dari pemain musik tradisional berbagai daerah. Seperti penampilan dari grup musik Tarling Cirebon “Aura Nada”. Pengunjung juga dapat menikmati musik dengan berjoget bersama sambil memberi saweran kepada penyanyi.

Penampilan Pencak Silat oleh Sanggar Seni Betawi “Gambangkromong” di Ajungan Betawi TMII

Taman Wisata miniatur Indonesia ini memiliki ajungan dari setiap provinsi di Indonesia. Selama Pekan Lebaran setiap ajungan juga menampilkan kesenian yang disesuaikan dengan ciri khas daerahnya. Seperti ajungan betawi yang menampilkan lenong dan pencak silat sambil menceritakan cerita rakyat betawi.

Anjungan Sumatra Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Anjungan juga dimanfaatkan pengunjung untuk bersilahturahim dengan kerabat satu daerah sambil menikmati suasana kampung halaman.

Momen hari raya ini juga dimanfaatkan John Syarifudin bersama keluarga berkunjung ke anjungan Sumatera Barat untuk mengobati rasa rindu kampung halaman dan memperkenalkan kebudayaan khas daerah ini kepada anak-anaknya.


Pengunjung menyewa pakaian laki-laki khas daerah Sumatera Barat untuk berswafoto di Rumah Gadang, Anjungan Sumatera Barat

Ajungan Sumatera Barat juga menyediakan penyewaan baju khas daerah yang dipakai pengunjung untuk berfoto. Rumah khas daerah atau rumah gadang ini juga disediakan TMII untuk istirahat pengunjung dan area sekitar anjungan ini dapat digunakan untuk bersantai sambil makan siang bersama keluarga.

Salah satu bazar perhiasan dalam rangka pekan lebaran Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Hiburan lain selama Pekan lebaran di TMII adalah aneka bazar. Bazar yang dapat dinikmati oleh pengunjung tidak hanya menjual aneka makanan dan pakaian tetapi juga menjual aneka perhiasan dengan harga yang terjangkau

bermain layang-layang di area Tugu Api Pancasila TMII

Sebelum kembali pulang, pengunjung juga dapat bermain layang-layang bersama anak-anak sambil menikmati matahari terbenam.

Meskipun selama Pekan Lebaran, harga tiket masuk perseorangan yang biasa dipatok Rp 20.000, kini naik menjadi Rp 25.000. Perubahan tarif tiket tersebut tidak menyurutkan niat wisatawan yang berkunjung ke miniatur Indonesia ini.

Penulis: Susi Nurdinaningsih

FISIP UI Terapkan “Paperless”, Pendapatan Fotokopi Menurun

Dalam pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia sedang mengurangi penggunaan kertas ujian atau paper less. Sebagian tugas karya akhir mahasiswa dikumpulkan secara online. Hal itu, membuat pegawai fotokopi mengalami kerugian.

Tersedianya bahan kuliah berbentuk e-book, juga membuat pegawai fotokopi tidak menambah stok kertas menjelang UAS. Karena mahasiswa lebih memilih e-book dari dosen ataupun melalui internet dibandingkan bahan berbentuk hardcopy.

Dodo salah seorang pegawai fotokopi FISIP UI mengatakan, menjelang UAS fotokopi semakin sepi, tidak banyak mahasiswa yang memfotokopi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dodo, Pegawai Foto Kopi FISIP UI

Untuk meminimalisir kerugian, pegawai fotokopi menjual sisa kertas bekas fotokopi sebagai tambahan pendapatan kepada pengepul kertas di luar kampus.

Penulis: Susi Nurdinaningsih