
Senin siang, 23 November lalu, Meja makan kantin FISIP UI penuh dengan mahasiswa yang sedang makan siang. Tepat disamping meja makan saya, ada lima mahasiswa yang sedang makan, dua dari mereka terlihat tidak selera makan sehingga paket nasi ayam bakar itu tersisa. Bahkan satu mahasiswa mengutarakan alasan kenapa dia tidak menghabiskan makanannya karena ayam bakarnya terlalu manis.
Setelah selesai makan, mereka menaruh piring kotor ke tempat seperti lemari coklat tanpa pintu dengan empat tingkat. Di tempat itu piring sisa makanan ditumpuk ke atas. Kalau sudah banyak, petugas akan mengambil lalu membuang sisa makanan ke ember dan piring dicuci dengan air hangat.
Agung Triyono, seorang petugas cuci piring Kantin FISIP mengatakan setiap hari sisa makanan yang terkumpul setara dua ember sejak kantin buka pukul 8 pagi.
“ Dihasilinya dua ember yang berukuran 5 liter dan biasanya saya buang siang jam 12 sama sore” Kata Agung.
Agung menambahkan sampah sisa makanan ini sebagian kecil tidak dibuang semua, tetapi kalau ada satpam yang meminta sisihkan makanan untuk ayam atau bebek peliharaanya.
Setelah dikumpulkan sampah sisa makanan, kemudian dibuang ditempat sementara, tepat di belakang toilet kantin yang sudah tidak digunakan.
Arsal, petugas sampah FISIP mengatakan sampah sisa makanan diangkut petugas setiap dua hari sekali sebelum dimasukan ke tempat pembuangan pusat.
“kalau diangkut dua hari sekali nanti ada petugas khusus buat angkut sampah makanan”.
Menyisakan sampah makanan adalah ironi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren presentase komposisi sampah 2018 paling besar berasal dari sisa makanan sebanyak 57 persen, kemudian 15 persen dari plastik, 10 persen kertas, dan terendah logam, kaca, karet dan lainnya.
Sementara Friends of Earth (FOE) pada januari 2016 mencatat dalam satu tahun produksi sampah makanan di dunia mencapai 1,3 miliar ton. Sampah sisa makanan berdampak pada kerusakan lingkungan, meningkatnya gas metanan dan pemberosan hingga ancaman krisis pangan.
Demi meminimalisir pengurangan sampah sisa makanan, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan target program mengurangi sampah 30 persen pada 2025
Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah, diwujudkan dengan pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang dan pemanfaatan kembali sampah.
Pemerintah mendorong sampah menjadi circular economy untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan. Aksi penerapan diperlukan kerjasama dari masyarakat, perusahaan maupun instansi pendidikan untuk mengubah perilaku dalam pengolahan sampah.
Pada instansi pendidikan seperti Universitas Indonesia, Depok telah dilakukan upaya pengurangan sampah sisa makanan melalui rumah kompos untuk dilakukan daur ulang dengan dengan proses pengomposan. Menurut Gandjar Kiswanto, Ketua Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Fasilitas (DPPF) kompos yang dihasilkan juga disebar ke lua wilayah Universitas.
“Kompos juga sudah disebar ke penjuru depok. Jadi dipakai UI, fakultas dan dari luar”.
Gandjar menambahkan tenaga kerja untuk pengolahan pengomposan juga bekerjasam dengan pemerintah Depok.
Pengolahan sampah sisa makanan terbaru
Selain Kompos, dalam rangka menerapkan konsep circular economy UI juga telah mengembangkan sistem baru yakni, ekosistem aquaponik, dengan mengintregasikan peternakan ikan dengan pakan larva (maggot/lalat) Black Soldier Fly (BSF) kemudian kotoran ikan dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.
Ekosistem yang dikembangkan oleh staf pengajar, Mufti Pelata Patria berserta dua anggota tim pengabdian masyarakat berawal dari permasalahan sampah sisa makanan kantin Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
“ iya sampah makanan kantin FMIPA setiap hari menghasilkan 4 ember cat ukuran lima liter, dari situ saya ngobrol dengan salah satu dosen tentang sampah itu. Terus saya coba bikin experiment dengan maggot BSF itu, dan sejauh ini berhasil”.
Ekosistem aquoponik yang dimulai pada bulan Juli 2019 melalui proses pengolahan yang sederhana dimulai dari proses Biokonversi dimana maggot dimasukan ke dalam ember yang berisi sampah makanan hingga menghasilkan pakan ikan dan unggas serta kompos kotoran ikan untuk tanaman kangkung dan selada air. Sekali proses dapat memakan waktu seminggu.

Mufti menambahkan, meskipun sudah berhasil di FMIPA tetap perlu proses pemberdayaan lanjutan agar dapat mengurangi sampah makanan dengan skala besar
“ sekarang saya masih melakukan uji coba lanjutan, terus rencana akan disosialisasikan ke daerah pemukiman seperti Komplek perumahan dan Yayasan di Depoks serta Madrasah di Bogor,” Kata Mufti.
Bagi Mufti jika pengolahan sistem aquaponik sudah disosialisasikan ke masyarakat luas. Masyarakat secara mandiri dapat menambah pendapatan melalui bahan gratis (sampah sisa makanan). Sehingga masyarakat dapat berkontribusi untuk harapan pemerintah tentang pengolahan sampah di 2025.
Penulis: Susi Nurdinaningsih
Infografik: Susi Nurdinaningsih
















